Belajar dari SPM Kementerian Kesehatan

Saya saat ini sedang menjadi fasilitator dalam workshop/lokalatih Persiapan Implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan & Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Timur di Hotel Novotel Balikpapan. Kegiatan ini digagas Biro Organisasi dan GTZ DecGG Project. Sebagai orang yang telah menggeluti dunia manajemen dan pengembangan organisasi sekian lama, saya harus angkat topi pada teman-teman di Kementerian Kesehatan yag secara konsisten sejak tahun 2003 menggarap sebuah nation-wide system yang disebut SPM Kesehatan. Sistem ini berusaha menjamin terwujudnya suatu standard pelayanan tingkat paling minimal di seluruh kabupaten/kota seluruh Indonesia. Tim Kementerian Kesehatan membuat suatu sistem yang cukup rumit dan kompleks agar dapat dijalankan oleh para aparat kesehatan di level operasioal kabupaten dan kota. Dan dari berbagai info yang saya dapatkan, sistem ini berjalan cukup baik.

Membuat sistem pada tataran konsep itu mudah, bentuk tim, siapkan anggaran, undang beberapa pakar, buat kontrak dengan rupiah yang memadai, jadi. Tapi menjalankannya, memperbaikinya secara berkesinambungan, mencobanya lagi, gagal, coba lagi, berhasil sedikit, cari solusi baru, dst selama 7 tahun, that is amazing untuk ukuran instansi pemerintah di Indonesia. Lihat web mereka http://www.spm.depkes.go.id. Bandingkan dengan Kementerian Pendidikan Nasional yang belum memiliki sistem serupa hingga hari ini. Padahal Kementerian Pendidikan Nasional mengelola 20% anggaran pemerintah, sementara Kementerian Kesehatan hanya 5%.

Yang lebih menarik lagi, para pengelolanya mengatakan bahwa kerjaan mereka ini belum akan selesai. Masih terus diperbaiki. Tahun 2003 dibuat 54 indikator, tahun 2008 berubah menjadi 18 indikator. Saat ini mereka sedang mengerjakan sistem monitoring dan evaluasinya. Bayangkan, sistem yang mulai dikembangkan tahun 2003, tapi baru 2010 merapikan pola monitoring dan evaluasinya. No rush, yang penting jalan dengan pasti. Salut.

System building adalah kegiatan manajemen yang butuh konsistensi, ketekunan, leadership dan forward thinking. Suatu kelemahan elementer bansa kita.

Sekedar catatan kecil dari kegiatan 18-19 Mei 2010 ini.

Posting Komentar

0 Komentar