Create your own Hexatar

08 August 2018

Family Project: Menjadikan Anak Kita Seorang YouTuber

Hampir semua anak yang saya temui memiliki YouTuber atau channel YouTube favorit, bisa dari dalam maupun luar negeri. Mereka adalah anak kita, keponakan kita, siswa kita yang masih sekolah di TK, SD, hingga SMA/SMK, termasuk perguruan tinggi. Bisa disimpulkan bahwa YouTube adalah TV resmi mereka, YouTuber adalah para pahlawan idola generasi milenial. Anak-anak kita begitu bersemangat untuk meniru idolanya dan bercita-cita menjadi YouTuber juga.


Apa Hebatnya Seorang YouTuber?

Materi YouTube dan YouTuber yang menjadi favorit kaum milenial sangat jauh dari bentuk acara dan bintang TV konvensional yang selama ini kita kenal. Materinya berisi konten kekinian, pendek, cepat ritmenya, campuran kental humor dan ilmu pengetahuan. Para pembuatnya rata-rata muda, kreatif, penuh semangat, dan punya keunikan tersendiri.

Materi YouTube yang populer ada yang positif, ada banyak pula yang negatif. Namun secara umum materi yang akhirnya viral dan terkenal adalah materi yang dibuat serius dan memiliki tingkat kualitas dan kreatifitas tinggi baik dari sisi isinya maupun cara penggarapannya. Pemirsa YouTube makin kritis dan selektif. Hanya YouTuber berkualitas yang bisa survive.

Dari video-video positif yang beredar sebagian besar menunjukkan kualitas yang tinggi dalam mengkomunikasikan materinya ke para pemirsa. Baik dari para YouTuber pembawa acaranya maupun dari alur cerita yang disampaikan. Artinya, para YouTuber ini adalah kampiun komunikasi yang sangat kompeten dan terlatih dalam berkomunikasi. Mereka adalah penutur yang baik, penulis yang mumpuni, artis yang jago dan juga hampir pasti adalah videografer yang ahli. Semua itu adalah aspek-aspek penting yang sangat diperlukan oleh anak-anak kita untuk sukses di dunia nyata masa kini, di semua bidang.

Dunia anak milenial memiliki karakteristik senang berbagi. Ini adalah salah satu bahan bakar utama berkembangnya media sosial termasuk YouTube. Harus diakui bahwa hal ini bisa berdampak buruk jika tidak terarah. Namun bisa menjadi sangat positif jika dibimbing dengan bijak. Tulisan berjudul “Tumbuhkan Sikap "Berbagi" pada Anak” berikut ini layak untuk dicermati sebagai referensi kita.

Apa Untungnya Jadi YouTuber?

Menjadi YouTuber atau membuat materi di YouTube bukan hal sulit bagi kaum milenial. Dengan peralatan sederhana mereka dapat memproduksinya sendiri, mempublikasikannya, dan kemudian memasarkannya. Tak heran kita akan dengan mudah menemukan anak-anak di sekitar kita bicara sendiri di depan kamera ponselnya sambil bergaya dan menyapa “Hi guys…”.

Yang membuat kaget, ada banyak materi yang dibuat anak, keponakan, siswa kita itu ternyata berkualitas bagus dan memiliki nilai jual tinggi di masyarakat. Walau sangat banyak juga  yang kurang bernilai positif, bahkan membawa mudarat. Tanggung jawab kita semua untuk mendorong agar konten positif semakin banyak yang pada akhirnya bisa memberi tekanan pada konten negatif.

Berikut contoh YouTuber top Indonesia yang masih berstatus siswa namun menghasilkan konten yang positif dan disukai masyarakat. Mereka adalah Agung Hapsah dari Tanah Grogot, Kalimantan Timur (tayangan lebih dari 50 juta) serta kakak-adik cilik dari Pekanbaru, Riau Lifia dan Niala (dengan tayangan lebih dari 1 milyar). Mereka bertiga sekaligus membuktikan bahwa anak-anak daerahpun dapat go national.

Perhatikanlah dalam video berikut bagaimana Agung si "anak sekolahan" bisa begitu canggih memproduksi video pendeknya. Oya, tahukan Anda bahwa Nisa Sabyan yang terkenal dengan lagu religinya masih berstatus siswa SMK saat menggarap video-video lagu gambusnya di YouTube? Video mereka telah ditonton lebih dari 700 juta tayangan.




Anak Kita Jadi YouTuber?

Semua fakta di atas membuat saya akhirnya berkesimpulan bahwa menjadi YouTuber yang baik akan bisa menjadikan seorang anak minimal menjadi komunikator yang baik. Dia akan dipaksa merumuskan ide cerita yang akan ditampilkan (idea development), dia akan dipaksa menuliskan alur dan apa yang akan disampaikan di materi videonya (story writing), dia akan dipaksa membayangkan apakah hasil karyanya akan disukai masyarakat (market orientation). Semua unsur di tubuh dan pikirannya bekerja untuk menghasilkan produk yang prima.

Lebih jauh, YouTuber yang terkenal biasanya sangat ahli dalam memasarkan materi produk mereka agar dapat ditonton oleh banyak pemirsa. Artinya mereka juga adalah ahli pemasaran yang hebat juga. Bahkan jika mereka sudah mulai terkenal maka para pemasang iklan akan mendekati mereka untuk bernegosiasi bisnis. Artinya, mereka akan belajar jadi pengusaha juga. Wow…! Pembelajaran yang sangat lengkap.

Lalu, mengapa tidak kita para orang tua atau para pendidik tidak sekalian saja mendorong anak-anak kita untuk menjadi YouTuber? Begitu banyak aspek pendidikan positif yang terkandung di dalam proses menjadikan mereka seorang YouTuber yang terkenal. Proses menjadi YouTuber ini ternyata adalah proses pendidikan karakter yang integratif menggabungkan berbagai unsur pembelajaran kognitif, afektif, dan psikomotor.

Sangat mudah mendorong anak-anak tersebut jika motivasi internal telah tumbuh dengan sendirinya di hati mereka. Lalu apa yang bisa dilakukan orang tua dan para pendidik?

Jadilah sahabat mereka, jadilah pendorong mereka untuk berekspresi. Sedikit dorongan seperti ikut membantu mereka mencari cerita yang bagus, membantu mereka menjadi kamerawan saat pengambilan gambar, duduk bersama di depan komputer keluarga untuk menyunting videonya, ikut mengajak anggota keluarga lain menonton hasil video karya mereka, hingga ikut aktif mempromosikan channel mereka ke keluarga dan kolega.

Dorongan-dorongan sederhana seperti itu akan membuat mereka semakin bersemangat dan menjadi pupuk yang subur untuk tumbuhnya daya kreatif anak kita.

Topik atau Genre Potensial

Sebagai gambaran awal bagi para orang tuan dan pendidik, ada beberapa topik atau genre yang populer di YouTube dan bisa dikembangkan oleh anak-anak kita.

Metode terbaik adalah dengan menjadikan proyek pembuatan video anak kita sebagai family project. Melibatkan seluruh unsur keluarga untuk mendukung mereka menjadi YouTuber yang baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ulasan ringkas di bawah ini hanyalah trigger belaka. Kreatifitas adalah kunci kotak Pandora suksesnya anak masa kini. Biarkan imajinasi mereka melanglang buana tanpa batas.

Humor. Bisa berupa candaan serius maupun yang konyol. Sangat cocok bagi anak kita yang memiliki bakat melawak atau punya gaya yang lucu. Materi bisa berupa drama pendek atau bisa juga cerita pendek ala stand-up comedy. Bisa diproduksi bersama teman, bisa pula secara individual, atau bersama keluarga. Proses diskusi pengembangan ide cerita bisa menjadi ajang yang sangat bermakna bagi anak dan orang tua atau gurunya. Silakan Anda bayangkan sendiri prosesnya. Jangan lupa untuk memberikan judul yang menarik saat mengunggahnya ke YouTube.

Gaming. Nah, ini adalah topik kontroversial  dan biasanya menjadi sumber konflik anak dan orang tua. Namun jika kita memiliki anak yang benar-benar berbakat game, maka genre ini bisa sangat potensial menjadi hit di YouTube. Anak berbakat game biasanya memiliki “otak encer” dan logika matematika tajam. Anak seperti ini cukup langka. Bagaimana cara mengenali apakah anak kita memang jago atau hanya sekedar pemain biasa? Disinilah pentingnya komunikasi yang hangat dengan anak. Dari cerita dan aktifitas mereka kita akan dengan mudah mengidentifikasinya. Produksi video gaming memerlukan peralatan yang relatif high spec, jadi mungkin orang tua harus memiliki keberanian untuk “investasi”, tetapi tentu setelah adanya kesepakatan dan diskusi serius membangun motivasi dan mimpi mereka.

Lagu (ciptaan sendiri atau cover membawakan lagu ciptaan orang lain, penyanyi atau musisi). Sudah sangat banyak contoh anak-anak bersuara emas atau jago musik tiba-tiba muncul viral dari media sosial. Jika anak kita memiliki bakat di bidang ini, ada banyak cara untuk membentuk mereka mengekspresikan kepiawaiannya, mulai dari metode sederhana mengambil video mereka bernyanyi atau bermusik, hingga menyewa studio musik untuk merekam karya mereka secara lebih profesional. Apapun cara yang diambil, saya jamin Anda akan puas dan bangga melihat video anak Anda berkarya di bidang yang mereka sukai.

On-the-spot Video. Ini salah satu jenis video yang sering menjadi viral diambil spot-on berupa kejadian nyata tanpa perencanaan tetapi mengandung isi yang unik, lucu, heboh, spektakuler, dll. Mendorong anak melakukan kerja “jurnalistik” menggunakan ponselnya, mengasah kepekaan dan kecepatan mereka bereaksi mengamati apa yang terjadi di sekitarnya. Video tidak harus berkualitas tinggi atau memiliki nilai estetika bagus, tetapi yang terpenting harus menarik perhatian. Bimbing anak untuk menceritakan sisi pandang unik dan positif dari video yang didapat, bisa dengan menyisipkan narasi atau teks yang mendukung dalam video.

Pariwisata. Jenis ini bisa sekaligus menjadi dokumentasi keluarga yang akan terus dikenang hingga anak-cucu kelak. Prinsipnya, jangan jadikan wisata keluarga hanya sekedar jalan-jalan biasa. Prosesnya bisa jadi wahana belajar yang sangat bermakna bagi anak-anak kita. Minta mereka untuk mendokumentasikan perjalanan wisatanya, dari sudut pandang mereka sendiri, jangan dikte mereka dengan perpektif kita yang sering “ketinggalan zaman”. Biarkan mereka berkreasi dengan aplikasi movie making yang ada di ponselnya. Dorong mereka untuk membaginya melalui YouTube, bisa berupa short video 2-3 menit atau bisa juga yang lebih panjang.

Fashion atau Style. Bagi anak yang punya bakat, genre ini bisa sangat prospektif, bisa berupa video kreasi fashion atau style kekinian bagi anak seusia mereka, atau review karya orang lain (dari foto atau video). Banyak sekali ruang bagi orang tua untuk terlibat, apalagi jika minat dan bakatnya sama dengan sang anak.

Film Pendek. Semakin banyak guru memberi tugas membuat film cerita pendek bagi para siswanya. Hampir pasti karya pertama mereka akan terlihat sangat amatiran, namun pengalaman dan jam terbang adalah kunci kesuksesan. Dorong mereka untuk terus mencoba dan menjadi lebih baik. Pujilah hasil jerih payah mereka, beri saran perbaikan dan bantuan nyata untuk karya mereka berikutnya.

Masih banyak lagi topik lain yang bisa dicobakembangkan. Seperti jenis video tips dan trik (cara membuat origami, membungkus kado, dll). Bagi anak yang punya bakat pildacil, bisa membuat video ceramah agama yang menarik dan lucu. Bagi anak yang pintar dalam pelajaran bisa membuat video ilmu pengetahuan (cara mengerjakan soal matematika/fisika yang sulit, cerita pelajaran sejarah, atau pelajaran lainnya). Anak yang punya bakat sebagai penyiar TV atau radio bisa membuat video-video tentang berita atau gosip dengan style mereka yang unik. Dan seterusnya… Begitu banyak kemungkinan, begitu luas peluang yang terhampar…

Berikut contoh video tentang mainan anak dari Lifia dan Niala. Idenya sederhana tapi dieksekusi dengan fokus pada dunia kanak-kanak. Yang menarik adalah video dibuat bersama dengan orang tuanya.




Ingin Lebih Serius?

Bagi para orang tua atau para pendidik yang serius ingin membantu anaknya memproduksi konten video yang baik, Anda bisa belajar lebih jauh melalui pencarian di Google. Ada banyak sekali materi yang bisa dipelajari dengan mudah. Jangan tergoda untuk menggunakan cara yang mahal dan sulit, cari yang murah dan dan mudah dulu. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan anak, kita bisa sesuaikan dengan kemajuannya dalam berkarya.

Google telah menyediakan sumber belajar sangat lengkap bagi siapapun yang ingin membuat materi di YouTube atau menjadi YouTuber di Akademi Kreator YouTube.

Bagi Anda yang ingin berdiskusi, silakan buat komentar di bawah posting ini, atau menghubungi saya secara japri. Saya dengan senang hati memberi pandangan (namun harus sabar menunggu menyesuaikan kesibukan).

Tetaplah Waspada

Sebagai penyeimbang, silakan tonton pandangan cerdas dari YouTuber Agung Hapsah berikut ini. Agung bercerita tentang tantangan dan reward bagi para YouTuber bocah di Indonesia. Sangat menarik untuk dijadikan referensi kita semua.

Tetaplah waspada, begitu banyak konsekuensi negatif mengintai anak kita yang suka menonton YouTube, demikian juga bagi anak kita yang akhirnya mencoba jadi seorang YouTuber. Bangun komunikasi hangat yang kuat dengan anak-anak kita. Buka mata dan telinga kita terhadap perkembangan dunia digital di era milenium ini agar kita tetap up-to-date dan tahu apa yang harus dilakukan ke depan.




Sebagai penutup, saya ingin menegaskan bahwa tulisan ini bukan ditujukan sebagai “panduan anak untuk menjadi YouTuber terkenal dan menghasilkan banyak uang”, tulisan ini adalah panduan “mendidik dan mengoptimalkan bakat anak dengan motivasi internal mereka sendiri untuk menjadi YouTuber”. Atau bisa juga dengan frasa berbeda yang lebih formal “pendidikan karakter integratif menggunakan media YouTube”.

Apapun namanya, saya yakin 1000% (seribu persen) bahwa kombinasi kemajuan teknologi dan kehangatan hubungan anak dan orang tua serta para pendidiknya adalah kunci majunya bangsa ini. Ayo kita mulai dengan anak kita, kita mulai dari keluarga kita, kita mulai dari sekolah kita sendiri.

Catatan: Melalui tulisan ini saya mendukung gerakan #sahabatkeluarga yang digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tulisan ini dikembangkan dari tema utama “Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian”.

Semoga bermanfaat.

Image courtesy of Etsy.
Videos are embed directly from YouTube.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...